Senin, 22 September 2014

Memohon Ampunan Allah Swt. dan Syafa’at Sang Nabi Saw.



في طلب مغفرةمن الله تعالي وشفاعةمن رسول الله صلى الله عليه وسلم
(Memohon Ampunan Allah Swt. dan Syafa’at Sang Nabi Saw.)

خَدَمْتُهُ بِمَدِيْحٍ أَسْتَقِيْلُ بِهِ ۞ ذُنُوْبَ عُمْرٍ مَضَي فِي الشِّعْرِ وَالْخَدَمِ
Kuberkhidmah padanya dengan pujian bait syair serta pada Sang Kuasa.
Dengan harapan umurku yang telah lalu terhapus dari segala dosa.

إِذْ قَلَّدَانِيَ مَا تُخْشَي عَوَاقِبُهُ ۞ كَأَنَّنِي بِهِمَا هَدْيٌ مِنَ النَّعَمِ
Dengan keduanya terkalungi segala dosaku yang ditakutkan siksaan.
Seakan dengan keduanya aku adalah hewan yang dijadikan qurban.

أَطَعْتُ غَيَّ الصِّبَا فِي الْحَالَتَيْنِ وَمَا ۞ حَصَّلْتُ إِلاَّ عَلَي الْآثَامِ وَالنَّدَمِ
Kuturuti masa mudaku dengan dua keadaan yang demikian.
Namun tidaklah kualami selain dosa-dosa dan penyesalan.

فَيَا خَسَارَةَ نَفْسِيْ فِيْ تِجَارَتِهَا ۞ لَمْ تَشْتَرِ الدِّيْنَ بِالدُّنْيَا وَلَمْ تَسُمِ
Alangkah ruginya diri ini dalam perdagangannya.
Tidak membeli agama dengan dunia, tidak pula menawarnya.

وَمَنْ يَبِعْ آجِلاً مِنْهُ بِعَاجِلِهِ ۞ يَبِنْ لَهُ الْغَبْنُ فِيْ بَيْعٍ وَفِيْ سَلَمِ
Siapa menjual bekal masa depannya dengan bayaran kontan saat ini.
Sungguh termat jelaslah kerugiannya dalam jual-beli.

إِنْ آتِ ذَنْبًا فَمَا عَهْدِيْ بِمُنْتَقِضٍ ۞ مِنَ النَّبِيِّ وَلاَحَبْلِيْ بِمُنْصَرِمِ
Meski tak elak berbuat dosa, janji setiaku dengan Nabi Saw. takkan pupus.
Tidak pula tali hubungannku dengannya menjadi terputus.

فَإِنَّ لِيْ ذِمَّةً مِنْهُ بِتَسْمِيَتِيْ ۞ مُحَمَّدًا وَهُوَ أَوْفَى الْخَلْقِ بِالذِّمَمِ
Karena aku memiliki jaminan dengan penamaanku darinya,
“Muhammad”. Dan ia adalah orang yang paling menjaga jaminannya.

إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْ مَعَادِيْ آخِذًا بِيَدِيْ ۞ فَضْلاً وَإِلاَّ فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ
Bila di akhirat nanti ia tak menolongku karena kemurahannya.
Maka katailah aku: “Sungguh celaka, wahai orang yang tergelincir kakinya!”

حَاشَاهُ أَنْ يُحْرِمَ الرَّاجِيْ مَكَارِمَهُ ۞ أَوْ يَرْجِعَ الْجَارُ مِنْهُ غَيْرَ مُحْتَرَمِ
Mustahil, baginya menolak seseorang yang mengharapkan kemurahannya.
Atau orang yang meminta perlindungannya pulang tanpa mendapat penghormatannya.

وَمُنْذُ أَلْزَمْتُ أَفْكَارِيْ مَدَائِحَهُ ۞ وَجَدْتُّهُ لِخَلاَصِيْ خَيْرَ مُلْتَزِمِ
Dan sejak kucurahkan pikiranku kepadanya dengan pujian-pujian.
Kudapati dirinya sebagai sebaik-baik pemeliharaku bagi keselamatan.

وَلَنْ يَفُوْتَ الْغِنٰى مِنْهُ يَدًا تَرِبَتْ ۞ إِنَّ الْحَيَا يُنْبِتُ الْأَزْهَارَ فِي الْأَكَمِ
Kekayaannya takkan pernah meluputkan tangan nan papa sedikitpun.
Sungguh hujan itu, meski bunga-bunga berada di tempat yang tinggi kan terhidupkan.

وَلَمْ أُرِدْ زَهْرَةَ الدُّنْيَا الَّتِي اقْتَطَفَتْ ۞ يَدَا زُهَيْرٍ بِمَا أَثْنٰى عَلَي حَرَمِ
Bukan bunga dunia yang kuharap, yang oleh dua tangan Zuhair dipetiknya.
Untuk Raja Haram bin Sinan ia memujinya karena kemurahannya.

(Zuhair adalah putera Abi Salmah, seorang penyair terkenal di zaman Jahiliyah. Sedangkan Haram adalah putera Sinan bin Harits al-Muzani, seorang raja Arab yang sangat pemurah dan pernah memberikan sebuah pemberian yang melimpah dan luar biasa kepada Zuhair).
.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَزِدْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَي آلِهِ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar