Kamis, 18 September 2014

Kelahiran Sang Nabi Saw.



في مولده صلى الله عليه وسلم
(Kelahiran Sang Nabi Saw.)

أَبَانَ مَوْلِدُهُ عَنْ طِيْبِ عُنْصُرِهِ ۞ يَا طِيْبَ مُبْتَدَءٍ مِنْهُ وَمُخْتَتَمِ
Kelahiran Sang Nabi menunjukkan kesucian dirinya.
Alangkah eloknya permulaan dan penghabisannya.

يَوْمٌ تَفَرَّسَ فِيْهِ الْفُرْسُ أنَّهُمُ ۞ قَدْ أُنْذِرُوْا بِحُلُوْلِ الْبُؤْسِ وَالنِّقَمِ
Terlahir disaat Bangsa Persia berfirasat dan merasa.
Ada suatu peringatan datangnya bencana dan angkara murka.

وَبَاتَ إِيْوَانُ كِسْرٰي وَهُوَ مُنْصَدِعٌ ۞ كَشَمْلِ أَصْحَابِ كِسْرٰي غَيْرَ مُلْتَئِمِ
Maka, di malam gulita Singgasana Kaisar Persia hancur terbelah.
Sebagaimana pula kesatuan para kerabat kaisar yang terpecah.

وَالنَّارُ خَامِدَةُ الأَنْفَاسِ مِنْ أَسَفٍ ۞ عَلَيْهِ وَالنَّهْرُ سَاهِي الْعَيْنِ مِنْ سَدَمِ
Sedih merundung dengan sangat, api sesembahan pun padam.
Dan sungai Eufrat pun tak mengalir, sebab duka yang dalam.

وَسَاءَ سَاوَةَ أَنْ غَاضَتْ بُحَيْرَتُهَا ۞ وَرُدَّ وَارِدُهَا بِالْغَيْظِ حِيْنَ ظَمِي
Para petani sawah bersedih hati saat kering danaunya.
Para pengambil air pun kembali dengan kecewa ketika dahaga.

كَأَنَّ بِالنَّارِ مَا بِالْمَاءِ مِنْ بَلَلٍ ۞ حُزْناً وَبِالْمَاءِ مَا بِالنَّارِ مِنْ ضَرَمِ
Seakan sejuknya air terdapat dalam jilatan api.
Seakan panasnya api terdapat dalam air, karena sedih tak terperi.

وَالْجِنُّ تَهْتِفُ وَالْأَنْوَارُ سَاطِعَةٌ ۞ وَالْحَقُّ يَظْهَرُ مِنْ مَعْنىً وَمِنْ كَلِمِ
Para jin pun berteriak, sedangkan cahaya terang terus memancar.
Kebenaran mulai tampak dari makna tersirat Kitab Suci maupun yang terujar.

عَمُوْا وَصَمُّوْا فَإِعْلاَنُ الْبَشَآئِرِ لَمْ ۞ تُسْمَعْ وَبَارِقَةُ الْإِنْذَارِ لَمْ تُشَمِ
Mereka buta dan tuli hingga kabar gembira tak didengarkan.
Datangnya peringatan pun tak mereka hiraukan.

مِنْ بَعْدِ مَا أَخْبَرَ الْأَقْوَامَ كَاهِنُهُمْ ۞ بِأَنَّ دِيْنَهُمُ الْمُعْوَجَّ لَمْ يَقُمِ
Setelah para dukun memberi tahu mereka.
Bahwa agama mereka yang sesat takkan bertahan lama.

وَبَعْدُمَا عَايَنُوْا فِي الْأُفُقِ مِنْ شُهُبٍ ۞ مُنْقَضَّةً وَفْقَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ صَنَمِ
Setelah mereka menyaksikan bintang-bintang di ufuk berjatuhan.
Seiring dengan runtuhnya semua berhala di muka bumi bergelimpangan.

حَتَّى غَدَا عَنْ طَرِيْقِ الْوَحْيِ مُنْهَزِمٌ ۞ مِنَ الشَّيَاطِيْنِ يَقْفُوْا إِثْرَ مُنْهَزِمِ
Hingga lenyap setan berlari dari pintu wahyu Ilahi.
Satu demi satu setan lari tunggang-langgang tiada henti.

كَأَنَّهُمْ هَرَبًا أَبْطَالُ أَبْرَهَةٍ ۞ أَوْ عَسْكَرٌ بِالْحَصَي مِنْ رَاحَتَيْهِ رُمِي
Mereka berlarian laksana prajurit Raja Abrahah.
Atau bak para pasukan yang terlempari kerikil oleh tangan Rasulullah.

نَبْذًا بِهِ بَعْدَ تَسْبِيْحٍ بِبَطْنِهِمَا ۞ نَبْذَ الْمُسَبِّحِ مِنْ أَحْشَاءِ مُلْتَقِمِ
Batu yang Nabi lemparkan sesudah bertasbih dalam genggaman.
Bagaikan terlemparnya Nabi Yunus dari telanan sang ikan.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَزِدْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَي آلِهِ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar